oleh

Pemerintah Dianggap Pilih Kasih Dalam Penertiban Warung Pinggir Jalan

PINRANG / Lintaslima.com– Ada yang menarik menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan . Ini terjadi di Kabupaten Pinrang, dengan munculnya surat penyampaian sebanyak 2 kali dari Kelurahan Maccorawalie, Kecamatan Watang Sawitto. Betapa tidak , satu dari sekian warung yang ada diatas saluran Irigasi di Jalan Juanda, diperintahkan segera di bongkar.

Dengan surat peringatan kedua dari Kelurahan Macorawalie , tentu membuat kesedihan pemilik warung, karna biaya sekolah satu anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) diandalkan dari hasil berjualan di warungnya, Dari gubuk penjualan kopi, teh, dan mie yang mayoritas langganannya dari PNS ,LSM dan Wartawan. ” Saya hanya sedih kenapa cuma saya yang diberi surat peringatan, sementara warung lainnya yang berjarak 100 meter tidak diberi surat peringatan” kata Wati yang siap siap melayani tamu yang akan berbuka dengan rujukan kopi dan mei instandnya.

Hanya disayangkan, setelah ditelusuri surat ini ternyata hanya untuk Wati di Jalan Juanda, sementara warung serupa hanya berjarak 100 meter sama sekali tidak mendapat surat serupa. ” Ini Artinya, ini berlaku diskriminatif, ” kata Kasman, salah satu komunitas LSM di Pinrang, Selasa (5/6/2018).

Tindakan Lurah Macorawalie, yang langsung saja menerima perintah atasannya tanpa melihat latar belakang demi membelah warganya. ” Tindakan pak Lurah ini hanya menjalankan perintah atasannya karena ada tujuan tertentu, ” tegas Hasjuddin,SH, dari LSM Lembaga Advokasi Lingkungan Hukum dan HAM (LALHAM) ditemui secara terpisah.

Hasjuddin, malah mendukung bila aturan ini (melarang ada bangunan di atas saluran/irigasi) LALHAM, memberi dukungan pemerintah bila benar dilakukan penegakan aturan . Tapi , jangan ada diskriminasi. Artinya, tidak hanya menertibkan satu tempat tapi harus diberlakukan kepada semua yang melanggar aturan tersebut.

Sementara Sekum KBPP Polri Resort Pinrang, Ir.Ruslan , yang juga ketua lembaga Pusat Study Otonomi Daerah (PSOD) justru balik bertanya apakah tidak ada masalah yang lebih besar bisa ditertibkan.

” Seharusnya, Lurah, Camat, dan Pemkab sendiri harus belajar dari kesalahannya bangunan Pasar Kampung Jaya yang jelas-jelas salah karena dibangun diatas saluran induk Sawitto-Lanrisang yang sampai saat ini tetap ada tanpa ada pembongkaran,” kata Ruslan membandingkan warung yang akan di bongkar di Jalan Juanda Pinrang.

Namun yang menjadi pertanyaan sejumlah lembaga LSM dan Wartawan dengan adanya perintah membongkar warung ini dari Camat Watang Sawitto, sesuai penjelasan Lurah Macorawalie, Farid,SH, tidak secara langsung ditujukan kepada LSM dan wartawan yang menjadikan warung ini sebagai markas berdiskusi, ” Peringatan membongkar warung ini tidak secara langsung ditujukan kepada kita, ” tambahnya Jamal salah satu pemerhati LSM. (NAS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed