oleh

Teka Teki Calon Raja Gowa Masih Hangat Di Perbincangkan Kalangan Kerajaan.

Gowa – Lintaslima.com Menyikapi hasil rapat terbatas pada tanggal 14 Agustus yang lalu di mana terdapat keputusan yang di anggap tidak sesuai dengan aturan di kerajaan Gowa,terkait penunjukan Andi Kumala sebagai pelaksana tugas tugas raja Gowa di nilai hanya untuk kepentingan perorangan sehingga membuat Dewan Adat kerajaan Gowa angkat bicara di hadapan awak media.

Menurutnya,hal itu tidak sesuai prosedur yang berlaku di lingkungan kerajaan karena Mangkatnya raja Gowa ke 37 I Maddusilla daeng Mayondri karaeng katangka sultan Alauddin II baru hampir memasuki hari ke seratus sehingga belum bisa dilakukan penobatan sang Raja.Apalagi di tengah kesibukan beberapa perangkat kerajaan sedang mempersiapkan acara pergantian tahta kerajaan yang sesuai dengan aturan atau sistem kerajaan yang berlaku.

Dewan Adat Kerajaan Gowa menyampaikan hasil musyawarah beberapa para petinggi kerajaan sebagai sumbangsih demi terciptanya masyarakat Gowa makmur aman damai dan sejahtera, agar tercapai segala cita cita sang raja yang mulia tanpa bermaksud apa apa baik yang bersifat pribadi maupun golongan.

Bahwa ada beberapa pesan dan saran yang di sampaikan oleh para perangkat kerajaan Gowa bahwa:
Pada tanggal 14 Agustus 2018 dalam rapat terbatas
1.Bahwa sesungguhnya dengan penunjukan Andi Kumala sebagai pelaksana tugas raja Gowa di nilai hanya untuk kepentingan perorangan tanpa merujuk kepada konstitusi kerajaan yang mengatur tentang hal “jika Raja (Sombayya) berhalangan tetap (mangkat) maka yang melaksanakan tugas tugas raja adalah:
1.Karaeng Tumabicara Butta
2.Karaeng Tumilalang Toa
3.Karaeng Tukajannangngang
Bisa juga di laksanakan oleh ketua dewan adat tinggi (H. Andi Makmun bautayang karaengta Bontolangkassa)

Sambil mempersiapkan EMPO SIPITANGNGARRI.dengan seluruh unsur perangkat kerajaan Gowa untuk membicarakan siapa yang paling cocok dan pantas untuk di nobatkan menjadi raja Gowa yang ke 38 yang memiliki kriteria tertentu yang di prakarsai oleh Unsur BATE SALAPANG setelah selesai seratus hari mangkatnya sang raja (Dipanaung Pappakaddona,Nipanaung patinroanna) Napunna Taenapa Nalebba Nagaukang Ngaseng Malompoi Nika Bassungang Annya’Buka Somba(jika belum melaksanakan seluruh acara seratus hari sang Raja,maka akan mendapat murka atau kuwalat)

2.Berbicara tentang kerajaan Gowa sebagai sebuah kerajaan besar yang pernah memberi warna Nusantara adalah kerajaan yang paling lengkap struktur dan pembagian tugas tugas pejabat kerajaan yang terdiri dari berbagai unsur seperti :
1.Raja Gowa
2.Karaeng Tumabicara Butta
3.Karaeng Tumilalang Toa
4.Karaeng Tumilalang Lolo 5.Karaeng Tukajannangngang
6.Daengta Kalia
7.Daengta Paccallayya
Dan Bali Empona Sombayya yang terdiri dari
1.BATE SALAPANG
2.BATE ANAK KARAENG
3.KARAENG LOE
4.ANRONG GURU
5.KARAENG TUMAKAMPONG(TAENG)
6.JANNANG

3.Alangkah indahnya petuah yang di tinggalkan oleh leluhur kita jika sesuatu yang di anggap penting untuk kepentingan kerajaan,sarananya adalah EMPO SIPITANGNGARI dengan Unsur dan perangkat kerajaan, sehingga tidak ada kesan RI TUMA BUTAYYA bahwa hanya di atur 4-5 orang untuk kepentingan tertentu.

Demikian pesan dan saran yang disampaikan dengan harapan dapat tanggapan fositif demi kemajuan kerajaan Gowa yang kita cintai dan kita banggakan bersama, sebagai generasi pelanjut dari para leluhur kita.

Berdasarkan saran yang kami kemukakan di atas dan mencermati perkembangan yang terjadi akhir akhir ini maka kami sebagai perangkat kerajaan GOWA dan pencerminan TUMA BUTTAYYA yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kerajaan GOWA,akan menolak dan beraksi atas segala langkah dan keputusan yang mengatasnamakan kerajaan Gowa tanpa mengakomodir dan melibatkan langsung unsur perangkat kerajaan.

Sesuai dengan pernyataan salah satu Dewan adat Tinggi Kerajaan Gowa bpk H. Muhammad Yunus Andi Rivai daeng Mile karaeng anak Moncong yang telah memberikan keterangan bahwa pesan almarhum yang merupakan amanat Raja Gowa sebelum mangkat kepadanya LEBBA KU BESO SOMBALAKKU NA KUGUNCIRI GULINGKU KUALLE ANGANGI TALLANGA NA TOALIA (lanjutkan perjuangan)

Dan yang perlu jadi perhatian kita bersama adalah dua sifat manusia yang tidak bisa diberi tanggung jawab apalagi sebagai Raja; Tau ero dudua (orang yang terlalu mau),dan tau tea dudua (orang yang tidak terlalu mau), bahkan ada petuah leluhur LAMBUSUNU JI NU KARAENG (dengan kejujuranmu dan keikhlasanmu sehingga engkau raja)

Laporan; Ahmad Fauzan Mubarak

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed