oleh

Masihkah Pendidikan Indonesia Bernuansa “Rahmatan Lil Alamin”?

Oleh: Muh Rezha Mulya Sugiri (Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi UINAM Angkatan 2016)

Sulsel – Lintaslima.com

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah sejak dari ayunan hingga liang lahat.” (H.R. Ibnu Majah No. 224 dari Anas bin Malik R.A. di shahikan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah: 183 dan Shahihut Targhib: 72).

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS: Al-‘Alaq | Ayat: 1-5).

Saya buka tulisan ini dengan menukil salah satu Hadits dan Qur’an Surah. Dalam hadits tersebut, Rasulullah bersabda tentang wajibnya seorang muslim atau ulul albab untuk senantiasi menuntut ilmu (ikhtiar untuk mendapatkan pengetahuan). Yang mana, ketika kita menuntut ilmu, maka Allah akan menaikkan derajat kita, tak dikotomikan baik ilmu sains maupun ilmu din (agama). Begitu pula pada Ayat Qur’an yang pertama kali Allah turunkan di semesta ini, sekaligus bermakna perintah, yaitu “iqra” (bacalah). Interpretasi “iqra” pada umumnya merupakan perintah Allah kepada manusia untuk berpikir dengan akalnya, melihat dengan mata, mendengar dengan telinga, dan merasa dengan hati, segala bentuk dinamika kebesaranNya agar manusia mampu mengonversinya menjadi hikmah dan pelajaran.

Pendidikan

Penuntut ilmu merupakan aktivitas manusia yang berpendidikan. Seperti yang dikatakan Tokoh Nasional Indonesia, K.H Dewantara bahwa pendidikan merupakan tuntunan mulai untuk anak-anak untuk memahami kodratnya, agar mereka sebagai manusia dan masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Begitu pula yang dituliskan oleh tokoh Islam, Imam Al-Ghazali bahwa proses pendidikan dimulai sejak bertemunya sperma dan ovum sebagai awal manusia hingga akhir hayatnya.

Objek pendidikan sangatlah kompleks: segala bidang dicakupi, mulai dari ilmu sosial: agama, moral, dan kebudayaan hingga ilmu sains dan teknologi.

Islam dan Pendidikan

Dalam Islam, pendidikan merupakan instrumen paling penting dalam membentuk karakter umat Islam. Lewat pendidikan, seorang muslim dituntun untuk memahami posisi dan relasinya: kepada Allah, kepada manusia, dan kepada alam, dengan bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadits sehingga seorang muslim mampu menjadi teladan yang baik, berakhlak mulia, dan memiliki idealisme dan militansi yang tinggi.

Selain itu, karena pendidikan, derajat, peradaban, dan gengsi umat Islam pada abad ke-14 masehi sangatlah maju serta membangun imej Islam sebagai agama yang mencintai keilmuan. Banyak tokoh-tokoh Islam (Al-Farabi, Ibnu Rusy, Ibnu Arabi, Al-Khaqarizmi, dan lain-lain). yang lahir dan besar karena sumbangsi pemikiran dan karya-karyanya yang monumental dan sangat dihargai hingga saat ini. Mulai dari bidang kedokteran, matematika, geografi, ilmu planet dan lain-lain yang tentunya sangat membantu aktivitas kehidupan kita sehari-hari.

Ini bukan kebetulan, ini merupakan buah yang manis yang mereka panen dengan menggunakan bibit-bibit ilmu pengetahuan.

Indonesia dan Pendidikan

Dalam landasan hukum Indonesia, ada tertera empat tujuan negara, salah satu isi butirnya adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Kala itu, sebelum Nusantara bernama Indonesia, Indonesia sudah memiliki banyak tokoh-tokoh atau cendikiawan yang memiliki peran penting memerdekakan dan membangun Indonesia. Di bidang tulis-menulis ada R.M Tirto Adi Suryo, juga guru para pendiri bangsa H.O.S Cokroaminoto. Termasuk para proklamator: Bung Karno yang terkenal dengan kemampuan retorikanya yang luar biasa, Bung Hatta dengan kecakapan pengetahuan ekonomi, dan H. Agus Salim dengan koleksi bahasa asing yang ia meiliki dan keterampilannya dalam berdiplomat.

Semua itu tidak kebetulan, jika diterjemahkan dengan hukum sebab-akibat, akibat dari kecerdasan mereka disebabkan karena kecintaan mereka pada pendidikan, pada buku-buku.

Meski tidak bisa dinafikan bahwa pendidikan saat itu merupakan hal yang eksklusif.
Maka dari itu, setelah Indonesia merdeka, adakah upaya konkrit yang mengacu pada butir tujuan negara yang saya utarakan tadi yang menyatakan bahwa negara bertanggungjawab untuk mencerdaskan kebidupan bangsa? Ataukah justru tujuan tersebut hanyalah menjadi isapan jempol belaja? Wallahu’alam!

Model Pendidikan Modern

Mari kita sama-sama bersepakat, jikalau dewasa ini, di era kontemporer, eranya neoliberal menguasai, bahwa sekolah dan perguruan tinggi yang menjadi representasi pendidikan formal yang selama ini dicita-citakan sebagai “Rahmatan Lil Alamin”, sebagai rahmat bagi semesta kini kian hari kian tereduksi.

Logika pendidikan yang mana diharapkan sebagai jembatan peradaban kini pupus. Pendidikan telah masuk dalam jerat neolibaral, di mana pendidikan tidak lebih hanya sebagai lembaga dagang. Itu bisa dikonfirmasi melalui sistem kurikulum dan tujuan akhir dari kelulusan, yang mana para pelajar hanya diajar untuk mampu berkompetisi serta memiliki satu dimensi output: menjadi buruh, menjadi bagian-bagian dari perangkat industri, tanpa ada pembentukan karakter.

Belum lagi, biaya pendidikan yang amat mahal, sehingga mencekik perekonomian keluarga pelajar. Boro-boro bersekolah, memikirkan makan untuk besok saja pusingnya tujuh keliling. Lalu bagaimana Indonesia menghadapi bonus demografi kalau penduduknya minim pendidikan?

Maka tidak mengherankan jika kita menengok kelakuan anak zaman sekarang yang tidak beradap, para pemimpin yang bermental korupsi, dan pelbagai perilaku-perilaku amoral lainnya. Sebab itu merupakan pertanda bahwa wajah pendidikan di Indonesia dalam keadaan genting.

“Supremasi Pendidikan Bukan Pada Untung-Rugi, Tapi Supremasi Pendidikan Adalah Menumbuhkan Fadilah Agar Bisa Bermanfaat Bagi Orang Lain.” – Cak Nun

Editor : Suardi

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed